Jumat, 15 Januari 2010

tanpa judul



     Penting untuk diketahui bahwa Anthony Reid, Snouck Hurgronje, Nazaruddin Sjamsuddin, Isa Sulaiman, Eric Morris, Prof. Ibrahim Alfian, Denys Lombard dan William Marsden memiliki posisi politik yang berbeda, sehingga mereka meneropong Aceh dari sisi yang berlainan. Inilah sejarah. Kebenaran, alih-alih tunggal, punya sisi yang tak pernah utuh dijangkau. Karena itu, terhadap alternatif kebenaran lain, kita mestinya toleran.


C. Snouck Hurgronje, misalnya, melihat Aceh untuk kepentingan kolonial Belanda, sedangkan William Marsden melihat Aceh dari posisi Inggris. Marsden sendiri adalah pegawai Kongsi Dagang Inggris, East India Company (EIC). Abangnya sendiri, dokter John Marsden, dokter yang ditempatkan di Bengkulu, menjadi salah satu nara sumbernya.


Marsden membuat catatan Sumatra secara ensiklopedik dengan liputan pandangan mata dan laporan investigasi. Inilah salah satu gaya bertutur Marsden di bab 21 dan 22 yang menjadi fokus pembacaan saya:


Karena tidak ada bala bantuan, diusulkan agar mereka mundur ke kapal. Namun, de Brito menolak usul itu dan memilih untuk bertempur. Setelah sebuah lembing menembus pahanya, Brito terjatuh. Orang Portugis yang terjepit menjadi nekat” (William Marden; 381).


Gaya Marsden bertutur mengingatkan saya pada aliran posmodernisme dalam historiografi. Hayden White, seorang ahli posmodernisme, mengatakan bahwa sejarah adalah sebuah narasi yang dikuasai oleh konvensi-konvensi estetika sastra daripada ke bidang pengetahuan.1. Menurut Bambang Purwanto, sebagai realitas yang dibayangkan, sejarah dan sastra tidak bisa begitu saja secara kaku diasosiasikan hanya dengan salah satu di antara keduanya, yaitu hanya berkaitan dengan sastra atau dengan sejarah. 2. Fakta dan fiksi tidak ada perbedaan yang berarti secara tekstual, sehingga sastra dan sejarah dapat diasosikan bergulat dalam bidang yang sama, yaitu bahasa.


Penganut pascamodernisme biasanya menyangkal bahwa suatu makna "lebih baik" atau ’"lebih benar" daripada makna lain. Dalam karya sastra ada fiksi dan begitu pula dengan sejarah. Kritik terpenting yang datang dari pascastrukturalisme dan pascamodernisme bersangkutan dengan historisisme. Baik pascastrukturalisme maupun pascamodernisme menolak paham yang mengatakan bahwa sejarah memiliki pola umum, dan bahwa masyarakat berkembang ke arah lebih baik dari zaman ke zaman.


Sejarah konvensional memasukkan peristiwa-peristiwa berdasarkan pembabakan besar dalam suatu proses yang linier. Sejarah sebagai suatu narasi besar diperlihatkan melalui peristiwa dan tokoh besar dengan mendokumentasikan asal-usul kejadian, menganalisis genealogi, lalu membangun dan mempertahankan singularitas peristiwa, memilih peristiwa yang dianggap spektakuler (seperti perang), serta mengabaikan peristiwa yang bersifat lokal dan tanpa kekerasan (kehidupan di pedesaan, misalnya).


Dengan cara ini, sejarah digiring untuk hanya mengabarkan tentang orang dan hal-hal besar, yang menghasilkan sejarah besar. Sementara, sejarah orang kecil (sejarah kecil) dianggap tak penting. Sejarah kecil dan detail ini juga tertuang dalam hampir keseluruhan karya Marsden. Saya contohkan dalam bab 21 yang membahas ”letak-pemerintahan-insfrastruktur-pelengkapan-kehidupan-hukum", misalnya, laporannya tentang gestur orang Aceh:


"...sosok tubuh orang-orang Aceh berbeda dari orang-orang Sumatra lainnya. Pada umumnya, mereka lebih tinggi dan lebih hitam kulitnya. Menurut dugaan, orang Aceh adalah campuran orang Batak, orang Melayu, dan orang Chulais" (William Marden; hlm. 366).



Untuk membaca lebih dalam karya Marsden memang diperlukan kejelian. Kalau kita menempatkan karya Marsden  di hadaan kita, kita harus memeriksanya dengan saksama. Pendekatan yang paling cocok barangkali adalah hermeneutik3. mengingat Marsden menuliskan laporannya dengan gaya sastra yang mendekati dongeng. Baca bagian ini:


"...Ibrahim mengubah taktik. Ia mengubah perkemahannya ke tempat yang jauh dan berpura-pura menghentikan usahanya. Akan tetapi, tipu muslihat itu gagal. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali melakukan penyerangan terhadap benteng itu dari segala penjuru. Orang-orang Aceh melakukan penyerangan pada malam hari dan ketika hujan turun, mereka memasang tangga-tangga bambu untuk menaiki tembok benteng" (William Marden; hlm. 384).



Atau baca pada awal pembukaan di Bab 22 ada sub judul ”Kedatangan Portugis” halaman 375:


”Pada tahun 1497, orang-orang Portugis dipimpin oleh Vasco de Gama melewati Tanjung Harapan. Pada tahun berikutnya mereka sampai di Makasar. ... Mereka bernafsu menjadi kaya mendadak dengan menjarah bangsa-bangsa lain...”



Marsden cukup fasih bercerita tentang kedatangan bangsa Portugis secara terperinci bahkan menyangkut hal-hal kecil. Tetai, yang kemudian menjadi janggal adalah bahwa sederet tulisannya tidak disertai sumber dari mana dia mendapat cerita tersebut. Hal ini sama halnya ketika Marsden bercerita panjang lebar tentang kerajaan dan raja-raja Aceh dari awal sampai akhir.


Marsden dan Denys Lombard nampaknya berbeda melihat pemerintahan masa Iskandar Muda. Marsden cenderung mirip dengan penggambaran Snouck Hurgronje dalam melihat Aceh pada awal abad ke 17 sebagai masa gelap . Sedangkan Lombard menggambarkan masa itu sebagai masa kejayaan (baca bagian SultanIskandar Muda, hlm. 393-399).


Membaca buku Marsden ini, kita akan masuk dalam ruang kekuasaan otonomi perempuan Aceh. Menjelang meninggalnya Sultan Iskandar Muda, hadir sebuah era baru di mana kekuasaan Achin4.berada di tangan perempuan. Di masa ini, dalam konteks negara yang selalu siaga terhadap serangan kekuatan luar, sudah menjadi hal umum jika Sultan dilengkapi dengan ratusan atau ribuan pengawal, baik sebagai pengawal kerajaan maupun pengawal pribadi Sultan.


Penguasa Achin setelah Iskandar Muda yang naik takhta tahun 1641 adalah seorang perempuan, Taju Al-Alum (ejaan ala Marsden). Ia naik tahta setelah Mughayat Shah meninggal dunia. Marsden memperlihatkan reaksi orang-orang berpengaruh di istana terhadap pemerintahan di bawah ratu yang mencerminkan persepsi kaum elit tentang penguasa perempuan. Hal tersebut senada dengan apa yang dikatakan Reid mengenai impresi mereka terhadap gaya pemerintahan ratu. Tetapi Marsden melihat, meskipun ratu memerintah, ia tidak mempunyai otoritas, sebab negara mempunyai sistem kekuasaan oligarkis.


Mundurnya ratu terakhir, Kemalat Shah, di tahun 1699 setelah memerintah selama 11 tahun , disebabkan oleh fatwa ulama yang tidak setuju terhadap kepemimpinan perempuan. Bisa dikatakan, gambaran Marsden cukup lengkap dalam melihat potret pimpinan perempuan dalam konteks sosial Aceh yang saat itu dilanda kompetisi politik dan perdagangan internasional. Marsden menggambarkan bahwa episode sejarah Aceh yang mengakui kekuasaan perempuan tersebut di satu sisi justru mencerminkan kenyataan tentang otonomi perempuan Aceh dalam ruang kekuasaan.




***



Referensi:



Bambang Purwanto. 2006. Gagalnya Historiografi Indonesia Sentris?!. Yogyakarta: Ombak.



Denys Lombard. 2006. Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Jakarta: Gramedia.



Henk Schulter Nordholt dkk. 2008. Perpektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia. Jakarta: KITLV.


4.Marsden memaparkan tentang  ‘Achin’ yang dikategorikannya sebagai orang Melayu di abad ke-16. Meskipun di satu sisi ia menggambarkan orang Achin sebagai “orang purba sebelum kedatangan Portugis,” di sisi lain ia uraikan secara detil bagaimana setting sosial di tahun 1635.




                                                                 Rhoma Dwi Aria Yuliantri (Peneliti sejarah)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar