Senin, 18 Januari 2010

SEJARAH ARAB, MEKAH, KABAH dan ZAMZAM




Menurut Encyclopaedia Britannica and Encyclopaedia Islamia, Arab tidak mencatatkan mengenai sejarah mereka sebelum jaman Islam. Anehnya, mereka bahkan menyebut jaman itu sebagai jaman Jahiliyah yang penuh nista dan kegelapan. Mungkin tiada satu pun negara di dunia yang terang2an menghapus sejarahnya sendiri selama 2.500 tahun seperti Arab. Dimana secara sistematis menghancurkan segala yang berhubungan dengan masa lalu. Hal ini dilakukan karena mereka malu atas identitasnya sebagai bangsa budak. Sejarah dunia mencatat bahwa bangsa Arab adalah keturunan  dari Ismael, anak dari seorang budak yang bernama Hagar, yang diusir oleh Sarah, istri sah Ibrahim. Sarah kemudian melahirkan seorang anak yang bernama Ishak yang menjadi bapak bangsa Yahudi. Kecemburuan Ismael kepada Ishak inilah yang menyebabkan kecemburuan bangsa Arab kepada bangsa Yahudi. Kecemburuan Islam terhadap Yahudi, yang akhirnya merembet juga kepada Kristen.
    Arab telah menghapus segala kenangan pra Islam dalam benak mereka. Mereka menggunakan Islam untuk menghapus stigma negatif mereka sebagai bangsa budak. Islam kemudian membalikkan status bangsa mereka menjadi bangsa pilihan Allah. Jika mereka memilih untuk jadi bodoh dan tidak tahu apa2 tentang masa lalu mereka, maka sungguh ironis bahwasanya mereka menuduh jaman sebelum Islam sebagai jaman bodoh dan tidak tahu apa2.

Untungnya, kita masih bisa menelusuri jaman sebelum Islam di Arabia. Pepatah terkanal mengatakan bahwa tidak mungkin bisa menghilangkan segala bukti. Sejarah Arab pra-Islam adalah sejarah Ksatria India atas tanah tersebut, di mana masyarakat menganut cara hidup Veda.


Sebagai usaha menyusun kembali sejarah Arabia pra-Islam, kami mulai dengan nama negara itu sendiri. Arabia itu adalah kata singkatan. Kata aslinya yang bahkan masih digunakan saat ini adalah Arbashtan. Asal katanya adalah Arvasthan. Seperti dalam bahasa Sansekerta, huruf "V" diganti jadi huruf "B". Arva dalam bahasa Sansekerta berarti kuda. Arvasthan berarti tanah kuda, dan kita tahu bahwa Arabia memang terkenal akan kuda2nya. Pusat ibadah yakni Mekah juga berasal dari bahasa Sansekerita. Kata Makha dalam bahasa Sanskrit berarti api persembahan. Karena penyembahan terhadap Api Veda dilakukan di seluruh daerah Asia Barat di jaman pra-Islam, maka Makha berarti tempat yang memiliki kuil untuk menyembah api.


Hal ini secara jelas menunjukkan bahwa Jazirah Arab, jauh sebelum masa Islam, adalah jajahan dari Kerajaan India Kuno. Menurut sejarah, para Maharaja Candragupta (58 S.M. - 415 M.) memperluas Kerajaan Hindu yang mencakup India, hingga jauh sampai keseluruh Teluk Arabia. Para Maharaja ini adalah pengikut setia dewa-dewi Hindu khususnya Dewa Shiva (dewa bulan-Allat) dan istrinya Dewi Dhurga (dewi bulan-Allah. Silahkan lihat sejarah lengkapnya dilink berikut:

Para Maharaja mempersembahkan kepada dewa-dewa mereka bangunan-bangunan kuil di seluruh wilayah kerajaan mereka (di Saudi Arabia saja sedikitnya ada 7 kuil peninggalan mereka, termasuk Kabah yang dibangun dimasa Raja Vikramaditya masih berdiri sampai saat ini). Bahkan setelah kerajaan Hindu ini runtuh, penduduk Arab masih percaya dan menyembah dewa-dewa itu dan mengagungkan kuil-kuil yang ada sampai datangnya masa nabi Muhammad. (Untuk lebih detailnya lihat artikel “Kabah, sebuah kuil Hindu”

Naskah Raja Vikramaditya yang ditemukan dalam Kabah di Mekah merupakan bukti yang tidak dapat disangkal bahwa Jazirah Arabia merupakan bagian dari Kekaisaran India di masa lalu, dan dia yang sangat menjunjung tinggi Deva Siva lalu membangun kuil Siva yang bernama Kabah. Naskah penting Vikramaditya ditemukan tertulis pada sebuah cawan emas di dalam Kabah di Mekah, dan tulisan ini dicantumkan di halaman 315 dari buku yang berjudul `Sayar-ul-Okul' yang disimpan di perpustakaan Makhtab-e-Sultania di Istanbul, Turki. Inilah tulisan Arabnya dalam huruf latin:


"Itrashaphai Santu Ibikramatul Phahalameen Karimun Yartapheeha Wayosassaru Bihillahaya Samaini Ela Motakabberen Sihillaha Yuhee Quid min howa Yapakhara phajjal asari nahone osirom bayjayhalem. Yundan blabin Kajan blnaya khtoryaha sadunya kanateph netephi bejehalin Atadari bilamasa- rateen phakef tasabuhu kaunnieja majekaralhada walador. As hmiman burukankad toluho watastaru hihila Yakajibaymana balay kulk amarena phaneya jaunabilamary Bikramatum". (Page 315 Sayar-ul-okul).[Note: The title `Saya-ul-okul' signifies memorable words.]
Terjemahan bahasa Indonesianya adalah:

        "Beruntunglah mereka yang lahir dan hidup di masa kekuasaan Raja Vikram. Dia adalah orang yang berbudi, pemimpin yang murah hati, berbakti pada kemakmuran rakyatnya. Tapi pada saat itu kami bangsa Arab tidak mempedulikan Tuhan dan memuaskan kenikmatan berahi. Kejahatan dan penyiksaan terjadi di mana2. Kekelaman dosa melanda negeri kami. Seperti domba berjuang mempertahankan nyawa dari cakaran kejam serigala, kami bangsa Arab terperangkap dalam dosa. Seluruh negeri dibungkus kegelapan begitu pekat seperti malam bulan baru. Tapi fajar saat ini dan sinar mentari penuh ajaran yang menyejukkan adalah hasil kebaikan sang Raja mulia Vikramaditya yang pimpinan bijaksananya tidak melupakan kami yang adalah orang2 asing. Dia menyebarkan agamanya yang suci diantara kami dan mengirim ahli2 yang cemerlang bersinar bagaikan matahari dari negerinya kepada kami. Para ahli dan pengajar ini datang ke negeri kami untuk berkhotbah tentang agama mereka dan menyampaikan pendidikan atas nama Raja Vikramaditya. Mereka menyampaikan bimbingan sehingga kami sadar kembali akan kehadiran Tuhan, diperkenalkan kepada keberadaanNya yang suci dan ditempatkan di jalan yang Benar."
Istilah Kabah sendiri berasal dari kata Sanskrit Gabha (Garbha + Graha) yg berarti Sanctum (tempat suci).


Kitab suci Weda Harihareswar Mahatmya menyebut bahwa jejak kaki Dewa Wisnu disucikan di Mekah. Bukti akan fakta ini adalah bahwa Muslim menyebut kuil ini Haram yang merupakan penyesuaian dari kata Sansekerta, Hariyam, yaitu. tempat Dewa Hari alias Dewa Vishnu. Jejak kaki Vishnu disucikan di tiga tempat suci: Gaya, Mekah dan Shukla Teertha. Mengukir jejak kaki macam itu merupakan adat Weda yang dicontek Muslim. Muslim menganggap bahwa ukiran jejak kaki ini disejumlah mesjid dan tempat2 suci Muslim diseputar dunia adalah jejak kaki Muhammad ! Diluar kuil hindu, biasanya juga terdapat singasana dewa Brahma, oleh karenanya di Mekah, singasana Brahma itu dianggap sebagai makam Ibrahim..

Tradisi Hindu lainnya yang masih berhubungan dengan kabah adalah sungai gangga, menurut tradisi Hindu, Gangga tidak dapat dipisahkan dari lambang Siva sebagai bulan Sabit, kemanapun lambang Siva (bulan sabit), disitu pasti juga terdapat Gangga, fakta dari persatuan tersebut terdapat di dekat kabbah. Airnya dianggap keramat karena secara tradisional sudah dianggap sebagai gangga sebelum Islam (yaitu Zam-zam)


Bahkan hingga hari ini, para peziarah Muslim yang menyaksikan kaabah untuk haji memandang Zam-zam ini dengan penghormatan hingga menaruhnya kedalam botol sebagai Air keramat bagi mereka, sama seperti yang dilakukan umat hindu hindia terhadap kesucian sungai Gangga.

  • LALU BAGAIMANAKAH SEJARAH KOTA MEKAH DAN KABAH ?

  • BENARKAH KOTA MEKAH, KABAH DAN ZAMZAM SUDAH ADA SEJAK JAMAN IBRAHIM.

  • APAKAH KLAIM TERSEBUT MEMILIKI BUKTI SEJARAH?

Ataukah hanya kebohongan yang sengaja diciptakan untuk menaikkan martabat bangsa Arab?

Uraian berikut akan membahas keabsahan klaim Islam tersebut dengan membandingkan dengan sumber-sumber sejarah lainnya.

Tulisan berikut dibagi menjadi 7 bagian, yaitu :

1. Bagian Pertama

Membahas klaim muslim dan apa yang dikatakan oleh sumber-sumber Islam tentang klaim tersebut.

2. Bagian Kedua : Nabonidus (6 SM)

Membahas laporan raja Nabonidus dari Babylon (pertengahan abad 6 SM)

3. Bagian Ketiga : Herodotus
Membahas laporan sejarawan Yunani yang hidup di abad 5 SM

4. Bagian Keempat : Strabbo (23/24 SM)

Membahas laporan yang dibuat oleh sejarawan Romawi yang bernama Strabbo yang melakukan perjalanan ke jazirah Arab hingga Yaman sekitar tahun 24 – 23 SM.

5. Bagian Kelima : Diodorus Siculus (abad 1 M)

Membahas klaim bohong Islam dengan memanfaatkan tulisan Diodorus Siculus.

6. Bagian Keenam : Pliny (77 M)

Membahas daftar kota-kota di Arab yang dibuat oleh Pliny.

7. Bagian Ketujuh : Claudius Ptolemy (150 M)

Membahas klaim bohong Islam dengan memanfaatkan tulisan Ptolemy

8. Bagian Kedelapan : Procopius dari Cesarea (abad 6 M)

Membahas laporan sejarawan Procipius dari Kaisarea yang hidup sekitar 550 M atau sejaman dengan kakek dan ayah Muhammad SAW hidup.

  • BAGIAN PERTAMA : MENURUT SUMBER ISLAM
Klaim muslim yang mengaitkan Mekah, Kabah dan Zamzam dengan Ibrahim dan Ismail didasarkan atas beberapa sumber berikut :

kabah sudah ada dijaman Ibrahim. Sumber :
QS 2 : 125

      Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i`tikaaf, yang ruku` dan yang sujud".


Kota Mekah sudah ada sejak jaman Ibrahim dan Ismail. Sumber :

Sirah Ibnu Ishaq

Kisah Sejarah Nabi Tertua

Muhammadiyah University Press, Jilid 1, halaman 65 :

     Ketika Ismail, putera dari Ibrahim meninggal, putranya yang bernama Nabit mendapat tugas menjadi pemimpin dan penguasa Kabah, kemudian tugas tersebut dilanjutkan oleh Mudzadz bin Amr al-Jurhumi. Anak keturunan Ismail dan anak keturunan Nabit bersama kakek mereka Mudzadz bin Amr dan paman-paman dari pihak ibu mereka dari Jurhum, dan anak keturunan Qatura, yang merupakan sepupu Jurhum, waktu itu adalah penduduk Mekah. Meraka datang dari negeri Yaman, dan mengadakan perjalanan bersama-sama kenegeri Mekah. …. Kemudian Tuhan melipat gandakan keturunan Ismail di Mekah.

Mata Air Zam-Zam sudah ada sejak jaman Ibrahim dan Ismail. Sumber :
Hadis Sahih Bukhari
Volume 4, buku 55, nomor 583 :


Ketika air di kantung kulit telah habis, Hagar menjadi haus, begitu pula Ismail. Hagar melihat Ismail yang dalam keadaan menderita kehausan. Hagar meninggalkan Ismail karena tidak tahan melihat penderitaan Ismail. ........ . Hagar terus menurt berlari antara Safa dan Marwa hingga tujuh kali. Rasulullah berkata, "Kejadian inilah yang mendasari tradisi jemaah haji berjalan antara Safa dan Marwa" Ketika Hagar mencapai bukit Marwa dia mendengar satu suara, Hagar kemudian berkata, "O, siapapun engkau, kamu telah membuatku mendengar suaramu, apakah engkau bisa membantuku? Dan ajaib, Hagar kemudian melihat satu malaikat di lokasi Zam Zam sedang menggali tanah, hingga akhirnya air memancar dari tempat itu....


Jadi kota Mekah sudah mulai dihuni dari sekitar tahun 2000 SM, dan terus dihuni hingga terjadi pengusiran suku Jurhum oleh suku Kinana dan Khuza’a. Sumber :


Sirah Ibnu Ishaq

Kisah Sejarah Nabi Tertua

Muhammadiyah University Press, jilid 1, halaman 67

Sementara waktu berjalan, suku Jurhum yang menguasai kota Mekah mulai bersikap kurang baik dan sok kuasa. Siapa saja yang memasuki kota Mekah yang bukan dari kerabat mereka diperlakukan dengan buruk……. Bani Bakar bin Abdul Manat bin Kinana dan Bani Ghubsan dari Khuza’a sepakat untuk memerangi suku Jurhum dan bertekat untuk mengusir mereka dari Mekah …. Dan berhasil mengusir suku Jurhum dari Mekah. …. Amir bin Harits bin Mudzadz al Jurhumi membawa dua patung rusa dari Kabah dan batu pojok (harusnya : BATU HITAM) dan menguburnya di sumur Zamzam, dan kemudian pergi meninggalkan Mekah bersama orang-orang Jurhum ke Yaman.

Kejadian ini terjadi sekitar pertengahan abad ke 2 M. Sumber :
Sejarah Hidup Muhammad

Syaikh Shafiyyur Rahman Al-Mubarakfury

Robbani Press1998, halaman 18 :

Dengan bantuan keturunan Adnan, yakni bani Bakr bin Andi Manaf bin Kinanah, mereka melakukan penyerangan terhadap Jarham sehingga berhasil mengusir mereka dan menguasai Makkah pada pertengahan abad ke 2 M….. Amru bin al-Harits bin Madladl bin al Jarhami mengeluarkan dua patung kijang yang terbuat dari emas milik Kabah dan hajar aswad, lalu disimpan dalam sumur zamzam.

Jumat, 15 Januari 2010

tanpa judul



     Penting untuk diketahui bahwa Anthony Reid, Snouck Hurgronje, Nazaruddin Sjamsuddin, Isa Sulaiman, Eric Morris, Prof. Ibrahim Alfian, Denys Lombard dan William Marsden memiliki posisi politik yang berbeda, sehingga mereka meneropong Aceh dari sisi yang berlainan. Inilah sejarah. Kebenaran, alih-alih tunggal, punya sisi yang tak pernah utuh dijangkau. Karena itu, terhadap alternatif kebenaran lain, kita mestinya toleran.


C. Snouck Hurgronje, misalnya, melihat Aceh untuk kepentingan kolonial Belanda, sedangkan William Marsden melihat Aceh dari posisi Inggris. Marsden sendiri adalah pegawai Kongsi Dagang Inggris, East India Company (EIC). Abangnya sendiri, dokter John Marsden, dokter yang ditempatkan di Bengkulu, menjadi salah satu nara sumbernya.


Marsden membuat catatan Sumatra secara ensiklopedik dengan liputan pandangan mata dan laporan investigasi. Inilah salah satu gaya bertutur Marsden di bab 21 dan 22 yang menjadi fokus pembacaan saya:


Karena tidak ada bala bantuan, diusulkan agar mereka mundur ke kapal. Namun, de Brito menolak usul itu dan memilih untuk bertempur. Setelah sebuah lembing menembus pahanya, Brito terjatuh. Orang Portugis yang terjepit menjadi nekat” (William Marden; 381).


Gaya Marsden bertutur mengingatkan saya pada aliran posmodernisme dalam historiografi. Hayden White, seorang ahli posmodernisme, mengatakan bahwa sejarah adalah sebuah narasi yang dikuasai oleh konvensi-konvensi estetika sastra daripada ke bidang pengetahuan.1. Menurut Bambang Purwanto, sebagai realitas yang dibayangkan, sejarah dan sastra tidak bisa begitu saja secara kaku diasosiasikan hanya dengan salah satu di antara keduanya, yaitu hanya berkaitan dengan sastra atau dengan sejarah. 2. Fakta dan fiksi tidak ada perbedaan yang berarti secara tekstual, sehingga sastra dan sejarah dapat diasosikan bergulat dalam bidang yang sama, yaitu bahasa.


Penganut pascamodernisme biasanya menyangkal bahwa suatu makna "lebih baik" atau ’"lebih benar" daripada makna lain. Dalam karya sastra ada fiksi dan begitu pula dengan sejarah. Kritik terpenting yang datang dari pascastrukturalisme dan pascamodernisme bersangkutan dengan historisisme. Baik pascastrukturalisme maupun pascamodernisme menolak paham yang mengatakan bahwa sejarah memiliki pola umum, dan bahwa masyarakat berkembang ke arah lebih baik dari zaman ke zaman.


Sejarah konvensional memasukkan peristiwa-peristiwa berdasarkan pembabakan besar dalam suatu proses yang linier. Sejarah sebagai suatu narasi besar diperlihatkan melalui peristiwa dan tokoh besar dengan mendokumentasikan asal-usul kejadian, menganalisis genealogi, lalu membangun dan mempertahankan singularitas peristiwa, memilih peristiwa yang dianggap spektakuler (seperti perang), serta mengabaikan peristiwa yang bersifat lokal dan tanpa kekerasan (kehidupan di pedesaan, misalnya).


Dengan cara ini, sejarah digiring untuk hanya mengabarkan tentang orang dan hal-hal besar, yang menghasilkan sejarah besar. Sementara, sejarah orang kecil (sejarah kecil) dianggap tak penting. Sejarah kecil dan detail ini juga tertuang dalam hampir keseluruhan karya Marsden. Saya contohkan dalam bab 21 yang membahas ”letak-pemerintahan-insfrastruktur-pelengkapan-kehidupan-hukum", misalnya, laporannya tentang gestur orang Aceh:


"...sosok tubuh orang-orang Aceh berbeda dari orang-orang Sumatra lainnya. Pada umumnya, mereka lebih tinggi dan lebih hitam kulitnya. Menurut dugaan, orang Aceh adalah campuran orang Batak, orang Melayu, dan orang Chulais" (William Marden; hlm. 366).



Untuk membaca lebih dalam karya Marsden memang diperlukan kejelian. Kalau kita menempatkan karya Marsden  di hadaan kita, kita harus memeriksanya dengan saksama. Pendekatan yang paling cocok barangkali adalah hermeneutik3. mengingat Marsden menuliskan laporannya dengan gaya sastra yang mendekati dongeng. Baca bagian ini:


"...Ibrahim mengubah taktik. Ia mengubah perkemahannya ke tempat yang jauh dan berpura-pura menghentikan usahanya. Akan tetapi, tipu muslihat itu gagal. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali melakukan penyerangan terhadap benteng itu dari segala penjuru. Orang-orang Aceh melakukan penyerangan pada malam hari dan ketika hujan turun, mereka memasang tangga-tangga bambu untuk menaiki tembok benteng" (William Marden; hlm. 384).



Atau baca pada awal pembukaan di Bab 22 ada sub judul ”Kedatangan Portugis” halaman 375:


”Pada tahun 1497, orang-orang Portugis dipimpin oleh Vasco de Gama melewati Tanjung Harapan. Pada tahun berikutnya mereka sampai di Makasar. ... Mereka bernafsu menjadi kaya mendadak dengan menjarah bangsa-bangsa lain...”



Marsden cukup fasih bercerita tentang kedatangan bangsa Portugis secara terperinci bahkan menyangkut hal-hal kecil. Tetai, yang kemudian menjadi janggal adalah bahwa sederet tulisannya tidak disertai sumber dari mana dia mendapat cerita tersebut. Hal ini sama halnya ketika Marsden bercerita panjang lebar tentang kerajaan dan raja-raja Aceh dari awal sampai akhir.


Marsden dan Denys Lombard nampaknya berbeda melihat pemerintahan masa Iskandar Muda. Marsden cenderung mirip dengan penggambaran Snouck Hurgronje dalam melihat Aceh pada awal abad ke 17 sebagai masa gelap . Sedangkan Lombard menggambarkan masa itu sebagai masa kejayaan (baca bagian SultanIskandar Muda, hlm. 393-399).


Membaca buku Marsden ini, kita akan masuk dalam ruang kekuasaan otonomi perempuan Aceh. Menjelang meninggalnya Sultan Iskandar Muda, hadir sebuah era baru di mana kekuasaan Achin4.berada di tangan perempuan. Di masa ini, dalam konteks negara yang selalu siaga terhadap serangan kekuatan luar, sudah menjadi hal umum jika Sultan dilengkapi dengan ratusan atau ribuan pengawal, baik sebagai pengawal kerajaan maupun pengawal pribadi Sultan.


Penguasa Achin setelah Iskandar Muda yang naik takhta tahun 1641 adalah seorang perempuan, Taju Al-Alum (ejaan ala Marsden). Ia naik tahta setelah Mughayat Shah meninggal dunia. Marsden memperlihatkan reaksi orang-orang berpengaruh di istana terhadap pemerintahan di bawah ratu yang mencerminkan persepsi kaum elit tentang penguasa perempuan. Hal tersebut senada dengan apa yang dikatakan Reid mengenai impresi mereka terhadap gaya pemerintahan ratu. Tetapi Marsden melihat, meskipun ratu memerintah, ia tidak mempunyai otoritas, sebab negara mempunyai sistem kekuasaan oligarkis.


Mundurnya ratu terakhir, Kemalat Shah, di tahun 1699 setelah memerintah selama 11 tahun , disebabkan oleh fatwa ulama yang tidak setuju terhadap kepemimpinan perempuan. Bisa dikatakan, gambaran Marsden cukup lengkap dalam melihat potret pimpinan perempuan dalam konteks sosial Aceh yang saat itu dilanda kompetisi politik dan perdagangan internasional. Marsden menggambarkan bahwa episode sejarah Aceh yang mengakui kekuasaan perempuan tersebut di satu sisi justru mencerminkan kenyataan tentang otonomi perempuan Aceh dalam ruang kekuasaan.




***



Referensi:



Bambang Purwanto. 2006. Gagalnya Historiografi Indonesia Sentris?!. Yogyakarta: Ombak.



Denys Lombard. 2006. Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Jakarta: Gramedia.



Henk Schulter Nordholt dkk. 2008. Perpektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia. Jakarta: KITLV.


4.Marsden memaparkan tentang  ‘Achin’ yang dikategorikannya sebagai orang Melayu di abad ke-16. Meskipun di satu sisi ia menggambarkan orang Achin sebagai “orang purba sebelum kedatangan Portugis,” di sisi lain ia uraikan secara detil bagaimana setting sosial di tahun 1635.




                                                                 Rhoma Dwi Aria Yuliantri (Peneliti sejarah)